Kamis, 11 November 2010

Ketika Cinta Tak Harus Memiliki

Hari pertama mengajar memang menegangkan. Padahal aku sudah dibekali persiapan yang cukup sebelum aku berangkat tugas. Teori memang sering berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan. Aku ditugaskan di daerah terpencil dengan lingkungan budaya yang asing bagiku. Sebuah pesantren kecil yang baru dirintis. Dengan jumlah santri yang tidak begitu banyak. Sebuah Mesjid yang tak begitu besar berdiri di tengah pesantren itu. Di Mesjid itu pula kadang aku menggantikan kyai untuk mengisi pengajian saat beliau ada undangan keluar. Beban berat sempat kurasakan di bulan pertama. Karena aku harus benar-benar bisa beradaptasi dengan masyarakat setempat. Namun, keadaan lingkungan masyarakat yang ramah segera membuatku nyaman dengan suasana baru itu.

“Maaf Ustad, kalau boleh saya mau mengejar beberapa pelajaran yang waktu saya sakit kemarin”. Kata Silmi saat aku selesai menutup pelajaran sore itu. Saat itu ruang kelas sudah mulai sepi. “Oh..boleh, tapi kamu jangan sendirian”. Hatiku bergetar saat menatap mata dan senyumnya. “Maksudku kamu harus ngajak teman. Kamu bisa ngajak ‘Irfana atau siapa aja”. Lanjutku. “Bisanya kapan ustad?” tanya Silmi lagi. “Terserah, kamu bisanya kapan, tapi jangan nanti malam, soalnya saya diajak kyai menghadiri undangan di desa tetangga”. Jawabku.”Oh..kalo gitu, bagaimana kalau mulai besok malam ustad?”. Aku diam sebentar. Sebenarnya aku mencari alasan untuk menolak. Karena aku memang sengaja ingin menghindar dari gadis ini. Terus terang ada perasaan aneh sejak pertama aku berjumpa dengannya. Entahlah, mungkin aku memang telah jatuh cinta padanya. Namun, saat aku tahu bahwa gadis ini sudah bertunangan akupun harus tahu diri sekalipun aku sempat merasa putus harapan. Makanya sebelum terjerumus jauh dalam perasaanku aku harus segera menghapus perasaan itu. “Bagaimana ustad, bisa nggak?”tanya Silmi lagi. “Oh iya..Insya Allah bisa”jawabku kaget.”Baiklah ustad, kalau begitu saya permisi pulang dulu assalamu’alaikum”.”Waalaikum salam”jawabku mengiringi langkahnya dengan tatapan kosong. Aku harus menghapus perasaan itu. Aku tak boleh jatuh hati pada gadis yang tak mungkin kumiliki itu. Aku harus tahu diri.

Bangunan pesantren tua yang mulai diselimuti malam itu menjadi saksi kegelisahanku. Silmi memang salah satu keluarga pesantren. Rumahnya tidak jauh dari pesantren tempat aku ditugaskan untuk mengajar. Setiap hari ia berangkat dari rumah untuk mengaji dan sekolah diniyyah. Dia selalu berangkat bersama ‘Irfana teman dekatnya. Silmi anaknya orangnya cantik dan lembut. Dia selalu ramah pada semua orang. Konon banyak yang jatuh hati padanya. Tapi tak satupun yang berani mengungkapkannya. Selain Silmi dari kalangan keluarga kyai, keluarganya juga sangat selektif untuk memilih siapa yang pantas buat pendamping putri satu-satunya itu. Silmi sendiri juga sangat patuh pada kedua orang tuannya. Ia benar-benar ingin menjaga kehormatan kedua orang tuannya. Dan dia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.

Malam itu pun tiba. Silmi datang bersama temannya ‘Irfana yang juga murid kelasku. Dua gadis belia yang sama-sama anggun. Sebenarnya usiaku tidak selisih jauh dengan mereka. Dan ilmu agamaku juga belum seberapa. Hanya kebetulan aku mengemban tugas wajib mengajar dari pesantren tempat aku belajar. “Assalamu’alaikum” Silmi dan ‘Irfana serempak. “Wa’alaikum salam”jawabku. Aku sengaja menunggu di ruang tamu tempat biasanya wali santri bila hendak bertemu pada pengasuh pesantren. Kebetulan kalau malam hari kyai tak menerima tamu karena beliau sering ada undangan keluar. Selain itu, ruangan yang tak begitu besar itu juga sedikit terbuka, sehingga tidak menimbulkan fitnah. Dan aku sudah memohon ijin pada kyai kalau beberapa hari ini aku akan memakai ruangan ini. ”Maaf, sudah lama menunggu lama ya..ustad?”tanya mereka berdua. “Oh, nggak juga, baru selesai sholat isya’ langsung ke sini”. Jawabku spontan.”Bagaimana, sudah siapkan menerima pelajaran?”. “Ya…ustad”. Jawab mereka. Akupun segera memulai pelajaran pada malam itu. Aku tanyakan pada Silmi, sampai di mana pelajarannya yang tertinggal. Detik demi detik berlalu. Dengan sabar aku menjelaskan materi demi materi. Sesekali aku tanyakan pada Silmi apakah dia paham atau tidak. Namun, aku merasakan sesuatu yang aneh saat aku menatap sorot matanya. Karena setiap mengajar, kontak mata adalah hal yang wajar. Tapi tidak untuk kali ini. Aku benar-benar merasakan ada getaran aneh. Dan aku yakin Silmi pasti juga merasakan hal itu. Aku tetap berusaha untuk bersikap wajar. Aku tak mau terpengaruh oleh bisikan-bisikan yang entah aku sendiri tak tahu artinya. Tiap kali aku mengakhiri pelajaran untuk dilanjutkan besok malam lagi, dipastikan kami pasti saling bertatap mata sejenak. Aku merasa seolah Silmi hendak mengungkapkan sesuatu. Ada ribuan bahasa yang tersembunyi di sana. Di balik tatapan mata itu, ada perasaan yang tak sabar ingin diungkapkan. Untungnya ‘Irfana tak sempat menyadari hal itu. Aku sendiri tidak tahu, apakah ‘Irfana benar-benar tidak tahu atau pura-pura tak tahu. Entahlah, aku ingin segera mengakhiri semua ini. Aku tak ingin terjebak oleh perasaan-perasaan yang aku sendiri bingung mengartikannya. Aku pun tak ingin menafsiri tatapan bisu namun menyimpan sejuta makna dari Silmi itu. Hingga akhirnya, sesuatu yang selama ini beku seolah mencair malam itu. Ya, malam terakhir Silmi selesai mengejar mata pelajaran yang tertinggal itu. Saat itu aku sudah mengakhiri pertemuan dan menutupnya dengan salam. Tapi…

“Maaf ustad, boleh minta waktunya sebentar, ada yang ingin saya bicarakan”kata Silmi yang sempat mengagetkanku. “Oh…boleh silahkan”kataku. “Ir..bisa tunggu di luar dulu ya, gak lama kok”kata Silmi menyuruh Irfana untuk menunggunya di luar. Tanpa banyak bicara Irfanapun menggangguk dan keluar. Aku hanya duduk tertegun. Kenapa Irfana disuruh keluar, memang Silmi mau ngomong apa?”tanyaku dalam hati. “Maaf, ustad kalau saya mengganggu sebentar”kata Silmi kemudian. “Ustad…saya ingin menanyakan sesuatu, dan saya harap ustad akan menjawabnya dengan jujur”kata Silmi perlahan.”Dan saya tahu, andai ustad nanti mencoba untuk berbohong, karena kita itu sulit untuk mendustai diri sendiri”lanjutnya. “Memangnya Silmi mau tanya apa?”tanyaku mulai menduga-duga. “Ustad sayang padaku kan?”Aku kaget mendengarnya. Pertanyaan yang tak mungkin aku jawab saat itu. Aku diam sejenak memutar pikiran. “Tolong jawab ustad?”tanya Silmi lagi. Aku menarik nafas panjang.”Aku menyayangi kalian semua, setiap guru pasti menyayangi murid-muridnya”jawabku mencoba mengelak.“Maaf, ustad bukan itu jawaban yang kuinginkan. Ustad jangan berusaha mengelak, saya tahu ustad itu mencintaiku sama seperti aku juga mencintai ustad”. Aku sedikit tersentak mendengarnya. Aku menatap mata Silmi sebentar. Ada kejujuran di sana. Sementara aku dengan kebohonganku hanya bisa menunduk dengan tatapan kosong. Aku tak berani menatap kejujuran itu. Kejujuran yang tampak tulus di depanku. Akupun sebenarnya tak bisa mendustai perasaanku. Aku juga mencintai Silmi. Tapi aku ingin mengubur cinta itu dalam-dalam. Biarlah hanya Allah yang tahu perasaan itu. Perlahan aku mendongakkan wajahku. Terasa berat sekali bagiku. Kulihat Silmi menunduk menanti jawaban. “Ya..Allah kuatkanlah hatiku”kesahku dalam hati. Kulihat jam dinding yang mulai munjuk angka sembilan. Jarum jam itu seolah berputar kian lambat. Berlawanan dengan detak jantungku yang justru berdetak kian kencang. Sekali lagi aku menarik nafas panjang. Aku mencoba mencari kata untuk memulai bicara. Aku tak ingin Silmi sakit hanya karena aku salah bicara. “Masalahnya bukan aku cinta atau tidak.. Sil”. Kataku memecah keheningan ruangan itu. perlahan Silmi sedikit mengangkat wajahnya. Aku berusaha mencairkan pikiranku yang dari tadi membeku. “Lalu…kenapa ustad?”. Perlahan Silmi bicara.”Silmi, aku tahu kamu itu sudah bertunangan, makanya aku tak ingin cinta ini tumbuh subur bersemi antara kita”. Kataku sedikit tertahan. “Dan kamu pasti juga mengerti itu”. lanjutku. “Tidak, ustad belum mengerti satu hal tentangku”. Jawab Silmi. “Aku tidak mencintai tunanganku, dan aku selama ini tertekan karena dijodohkan oleh orang tuaku”. kata Silmi sembari menangis tersedu. Aku hanya bisa diam. Otakku tak bisa bekerja. Aku hanya mengikuti arus waktu.”Sebagai anak perempuan, aku hanya bisa patuh. Padahal hatiku selalu berontak, dan selama ini aku tak punya tempat mengadu. Tapi kini…aku telah menemukan tempat aku untuk berkeluh kesah. Ustadlah orangnya..kuharap ustad bisa mengerti perasaanku”. Lanjut Silmi. Nafasku semakin sesak dibuatnya. “Maafkan aku Sil, aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu sekarang, tapi kamu juga harus mengerti perasaanku”. Jawabku kemudian.”Apa ustad juga mencintaiku”tanya Silmi lagi. “Kau tak perlu tanyakan itu, kalau kau yakin pada kata hatimu”. Jawabku dengan tatapan meyakinkan.”Silmi..kalau memang kau sayang sama aku, tolong dengarkan aku”. Aku menarik nafas dalam-dalam sekedar mengusir beban hati yang teramat berat sekali. “Seorang anak wajib berbakti pada kedua orang tuannya. Karena mereka telah merawat dan membesarkan kita dari kecil hingga sekarang. Sebagai anak yang baik…patuhilah kemauan orang tua kamu”.kataku dengan nada datar.

“Ya..tapi aku tidak mencintai calon suamiku. Sekalipun dia orangnya baik. Dan aku tahu dia sangat menyayangiku. Tapi cinta itu tak bisa dipaksakan. Mereka tidak mengerti perasaanku…ustad”. Suara Silmi terasa berat. “Apa mungkin aku hidup dengan orang yang tak aku cintai?”.lanjutnya sambil menyeka air matanya dengan ujung kerudungnya. “Sil, aku yakin pilihan orang tua kamu itu tepat. Tak ada orang tua yang akan menyengsarakan anaknya. Orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya”. Kataku mencoba menenangkan hatinya.”Sekalipun aku harus menderita karena tidak mencintainya?Aku takut tidak bisa menjalankan kewajibanku sebagai istri yang baik ustad”. Terdengar suara Silmi agak tinggi. Sebenarnya aku sangat kasihan padanya. “Sil, rasa cinta itu tak selalu harus hadir dengan tiba-tiba. Ada rasa cinta yang memang harus kita bangun. Harus kita ciptakan. Dan semua orang bisa melakukan itu. Kamu bukannya tidak bisa mencintai tunanganmu. Tapi kamu menutup hatimu untuk mencintainya. Karena memang tak sesuai dengan apa yang kau inginkan. Sehingga kamu tak mau melihat hal-hal yang bisa memberi peluang hatimu untuk mencintainya. Tapi coba kamu belajar untuk mencintainya. kamu pasti bisa. Mulailah dengan niat untuk ibadah dan berbakti kepada orang tuamu. Insya Allah kamu pasti bisa Sil…”. Aku lihat Silmi bisa mengerti apa yang kukatakan. “Tapi hati ini mencintaimu ustad. Dan ustad sendiri juga mencintaiku kan?”. Kata Silmi dengan nada yang terdengar berat sekali. “Silmi, cinta itu tidak harus memiliki. Dan kalau kita ngomong cinta dan jodoh, semuanya itu memang penuh misteri. Sekalipun kita saling mencintai, tapi Allah menentukan kita tak berjodoh kitapun tak dapat berbuat apa-apa. Kita hanya bisa berdoa. Kita juga demikian, sekalipun kini kau adalah tunangan orang lain. Tapi jika Allah menentukan kau adalah jodohku. Maka tak sulit bagi-Nya tuk menyatukan kita. Semua peristiwa kehidupan ini telah diatur sedemikian rupa oleh-Nya. Dan Allah telah mempertemukan kita di sini dalam keadaan seperti ini bukan secara kebetulan. Semua pasti ada hikmahnya”. Kataku berharap bisa menghibur hati Silmi yang tengah sedih itu.

“Andai Allah mempertemukan kita dari dulu. Pasti ini tidak akan terjadi…”. Kata Silmi sembari mendesah panjang. Seolah menyesali pertemuan ini.

“Itulah misteri kehidupan Sil,…kita tak boleh berkata seperti itu. Karena semua ini telah ditentukan olah Allah. Dialah yang maha tahu atas segalanya. Apa yang kita senangi bisa jadi itu buruk bagi kita. Sebaliknya apa kita benci justru itulah yang nantinya terbaik bagi kita”. Kataku sambil melirik jam tanganku. “Sudah malam Sil..sekarang kamu pulang. Gak baik gadis pulang malam-malam. Kasihan Irfana menunggu dari tadi. Percayalah Sil,..Insya Allah aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu mengerti perasaanmu. Aku memang mencintaimu. Tapi aku telah siap untuk kehilangan dirimu. Kita hanya bisa menunggu waktu. Kita hanya bisa berdoa mohon kesabaran untuk bisa jalani semua ini”. Kataku mengakhiri pembicaraan malam itu.

“Terimakasih ustad..aku akan selalu ingat kata-kata ustad”. Kata Silmi sembari permisi pulang. Tatapan matanya nanar berlinang air mata. Aku hanya bisa menggangguk tersenyum mengiringi kepergiannya. Air mata ini akhirnya jatuh berderai. Airmata yang dari tadi menunggu giliran untuk turut mengungkapkan kesedihanku. “Ya Allah.. Sebenarnya aku sangat lemah untuk menghadapi semua ini”. Aku belum bisa beranjak dari ruangan itu. Aku terdiam merenungi nasib yang aku alami.

Udara malam itu seolah terasa panas bagiku. Hatiku kacau tak mengerti bagaimana aku harus menghadapi ini semua. Kenapa aku harus mengalami ini semua. Aku memang mencintai Silmi. Tapi aku sama sekali tak mengaharapkan keadaan seperti ini. Tapi sejak aku tahu dia telah bertunangan aku berusaha mengubur cinta itu. Tapi kini lain ceritanya. Aku bukan saja menderita karena cintaku. Tapi aku turut merasakan bagaimana penderitaan kekasihku. Dan aku tak mungkin membiarkan dia dalam penderitaannya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang bisa aku lakukan?Silmi berada dibalik dinding benteng yang kokoh. Sekalipun dia tak mencintai lelaki pilihan orang tuanya. Tapi bukan berarti dia bisa merobohkan benteng suci ikatan pertunangan itu. Dan aku sendiri juga tak bisa menerobos benteng itu. Bahkan Rasul melarang seorang muslim melamar gadis yang telah dilamar oleh saudaranya yang muslim. Tapi jodoh itu kan ditangan Tuhan. Sebelum janur kuning melengkung kalau Silmi memang jodohku, Allah pasti kuasa untuk memberi jalan. Entahlah, cinta memang tak harus memiliki. Tapi bagaimana bila gadis yang aku cintai tak dapat hidup bahagia. Dan apakah aku bisa mencintai orang lain seandainya aku memang tak berjodoh dengan Silmi. Wallahu a’lam bisshowab. Hanya Allah yang tahu. Dia yang maha membolak-balikkan hati manusia. Aku yakin ada hikmah di balik semua ini. Aku hanya berharap agar diberi kekuatan kesabaran andai Silmi bukanlah gadis yang dicipta untuk temani hidupku. Dan aku yakin rencana manusia itu tak selalu sejalan dengan takdir Allah. Biarlah Silmi itu tunangan orang lain. Tapi bagiku saat ini dia adalah gadis yang aku cintai. Dan dia juga mencintai aku. Biarlah sementara ini aku akan menjadi orang yang terbaik baginya. Orang yang menjadi sandaran saat dia rapuh. Sekalipun aku kelak harus siap sakit hati karena harus menempuh jalan ini.

Selanjutnya kami jalani hari-hari kami seperti biasa. Tak ada yang istimewa dalam hubungan ini. Aku pun jarang berbicara secara khusus dengannya. Mungkin hanya sebatas saling senyum sesekali. Tak satupun orang yang tahu bahwa antara aku dan dia memiliki ikatan batin. Tak terkecuali Irfana teman dekatnya. Dia juga tak tahu rahasia ini. Kami merasa telah saling memiliki sekalipun tahu bahwa kelak akan saling kehilangan. Dan kami sama-sama menyimpan harapan bahwa kelak kami benar-benar bisa saling memiliki. Kadang hati ini tak rela untuk kehilangan dia. Silmi benar-benar telah mengisi ruang hatiku. Aku sepertinya telah terbuai dengan dunia cinta yang awalnya tak ku inginkan ini. Karena aku harus mencintai gadis yang telah bertunangan. Silmi pun tampak lebih periang sekarang. Dia sama sekali tak pernah menyebut tunangannya di depanku. Aku juga merasakan hari-hariku seolah lebih indah. Tak sabar menunggu kedatangan esok hari hanya sekedar ingin melihat senyum Silmi kekasihku. Sekalipun tak seperti orang lain yang tengah menjalin hubungan asmara, kami bahagia dengan menjalin ikatan seperti ini. Akupun selalu berdoa agar Silmi benar-benar jodohku. Sekalipun sekarang ia adalah tunangan orang lain. Tapi aku yakin, seandainya dia jodohku perkawinan Silmi tak akan pernah terjadi. Entah bagaimana Allah melakukannya. Tapi terkadang aku juga ragu. Rasa takut kehilangan selalu menyadarkanku. Agar aku harus pelan-pelan bisa keluar dari ikatan cinta ini. Agar jika Allah menghendaki Silmi bukan jodohku, aku tak akan terlalu terpukul olehnya. Aku bisa lebih siap menghadapinya. Atau paling tidak aku sudah pergi dari sini. Sehingga aku tak menyaksikan dia duduk di pelaminan bersama orang lain. Antara harap dan cemas aku lewati hari-hariku. Hingga pada suatu malam tanpa sengaja aku mendengar kabar yang mengejutkan. Seseorang mengatakan bahwa Silmi batal dengan tunangannya. Entah dari mana kabar itu. Tapi yang jelas kabar itu sempat memberi pencerahan bagiku. Ada secercah harapan di hatiku. Tapi aku belum tahu kebenaran kabar itu.”Apa benar Silmi putus dengan tunangannya?”pikirku. Tapi Silmi gak pernah bilang apa-apa padaku. Apa dia ingin memberi kejutan padaku. Oh..entahlah, semalaman aku tak bisa tidur memikirkan hal itu. Tak sabar aku menunggu pagi. Tapi aku tak mungkin menanyakan hal itu pada Silmi. Tak pantas rasanya. Biarlah andai itu benar, biar Silmi sendiri yang mengatakan padaku. Dengan hati gundah aku lewati malam itu. “Anda berita itu benar….”.

Pagi itu tampak mendung. Matahari sedikitpun tak menampakkan wajahnya. Udara pagi juga terasa menusuk, membuat aku malas menyentuh air. Kulihat para santri sudah banyak yang berangkat ke madrasah. Akupun segera bersiap untuk berangkat mengajar. Tak seperti biasanya aku hari ini. Aku masuk ruang kelas dengan perasaan yang aneh. “Kemana Silmi?”tanyaku dalam hati saat ku lihat bangkunya kosong padahal Irfana hadir. Tidak seperti biasanya. Padahal dia selalu hadir tepat waktu dan selalu menyambutku dengan senyum manisnya. Aku mulai mengabsen saat tiba-tiba terdengar salam. “Asslamu’alaikum, maaf ustad saya terlambat, tadi saya masih ada urusan”. Kata Silmi yang berdiri di depan pintu dengan senyumnya. “Oh..gak apa-apa silahkan duduk”kataku sembil mempersilahkan Silmi masuk. Aku lihat raut wajahnya. Masih seperti biasa, riang bahagia. Tapi hatiku masih penuh tanda tanya atas berita yang kudengar semalam. Hari itu aku tak bisa fokus mengajar. Pikiranku melayang mencari-cari jawaban saat sesekali aku lihat wajah Silmi. “Tidak, aku tidak mau menanyakan hal itu pada Silmi, biarlah waktu yang menjawabnya”pikirku. Aku sudahi pelajaran hari itu. Waktu sudah menunjuk jam 12.30 WIB. Dan ternyata Silmi juga tak bilang apa-apa saat pulang tadi. Akupun segera kembali ke kamarku.

Suasana sedang gerimis ketika sore itu seorang santri datang ke kamarku. “Ustad, kata kyai dimohon kehadirannya ke ruang tamu”kata santri itu. “Ada apa?”tanyaku penasaran. “Itu ustad, ada acara akad pernikahan”.“Memangnya siapa yang mau menikah?”tanyaku sepontan. “Mbak Silmi, maaf ustad saya permisi dulu”kata santri itu yang segera beranjak dari hadapanku. Aku tak sempat berkata apa-apa. Pandanganku sepertinya gelap. Aku tak percaya dengan apa baru saja kudengar. “Nggak mungkin”kataku dalam hati. Dengan hati berdebar aku mengambil baju kokoku. Sepertinya aku tak kuat berdiri. Dunia seolah berputar. Apakah hari yang aku takutkan itu tiba hari ini. Dengan langkah yang berat aku menuju ke ruang tamu tempat dimana kyai biasanya menerima tamu wali santri. Dengan tubuh linglung aku melewati barisan santri yang tengah bercanda ria di serambi pesantren.”Cepat ustad, acaranya hampir di mulai”celetuk salah seorang santri yang kebetulan murid kelasku. Aku tak dapat mengendalikan perasaanku. Perasaan yang tengah bergemuruh karena tidak siap dengan kenyataan ini. Kaki ini terasa kaku sekali saat aku mulai memasuki ruangan tamu itu. Di sana sudah berkumpul beberapa orang. Ku lihat kyai sedang duduk tenang sambil ngobrol dengan seorang lelaki. “Tunangan Silmikah?”tanyaku dalam hati. Ternyata benar, Ustad Zainal namanya. Beberapa asatidz juga telah berkumpul di sana. Seorang lelaki paruh baya duduk di samping kyai. Ternyata dia adalah ayahnya Silmi. Sejak pertama kali datang aku memang belum pernah bertemu ayahnya Silmi. Suasana tegang ketika kyai mulai membuka acara sakral sore itu. Kemudian terdengar suara pemasrahan dari ayah Silmi pada kyai untuk menikahkan putrinya. Detak jantungku berdetak lebih keras bak genderang mau perang. Di sudut ruangan itu aku seperti seorang terdakwa yang akan di sidang. Ingin rasanya aku menutup telinga rapat-rapat. Haruskah aku menjadi saksi akad pernikahan kekasihku sendiri. Kusesali kenapa aku harus hadir di sini tadi. “Ya Allah, kuatkanlah hatiku”rintihku dalam hati. Kemudian aku hanya bisa menunduk menyembunyikan kegoncanganku.

“Aku terima nikahnya, Silmi Kaffah binti Abdul Aziz dengan maskawin seperarngkat alat sholat dibayar tunai”. Selesai sudah ritual sakral itu. Ritual yang bagiku seperti vonis yang dijatuhkan padaku. Ustadz Zainal, sang mempelai putra tampak menarik nafas lega. Gerbang dunia baru telah terbuka dihadapannya. Gerbang yang sebenarnya tak pernah kuharapkan untuk terbuka. Rona bahagia tampak jelas di wajahnya. Semua yang hadir saat itu juga tampak bahagia. Tapi tidak bagiku. Mendung kelam nan tebal seolah menutupi pandanganku. Aku yang saat itu duduk di sudut pendopo menunduk dengan sedikit air mata berlinang. Tak ada yang tahu betapa hancurnya hatiku saat itu. Aku menatap kosong. Pikiranku melayang jauh. Seolah menelusuri lorong waktu. Jiwaku seolah pergi meninggalkan ragaku yang terduduk sedih di sudut ruangan itu. Jiwaku seolah hendak berlari dari kumpulan orang yang tengah bahagia itu. Pergi menghindar sejauh mungkin dan terbang untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Menelusuri lorong waktu yang telah kulalui selama ini. Semakin jauh hingga terdampar dalam ruang waktu yang tak pernah ku harap kehadirannya andai aku tahu akan begini akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar